Rabu, 13 November 2013

TEKNOLOGI PENDIDIKAN




DESAIN-DESAIN INSTRUKSIONAL
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah       : Teknologi Pendidikan
Dosen Pengampu: Rahmat Kamal, M.Pd.I

Description: Logo STAIN-putih.jpg


Oleh :
1.        Dzikrotul Khasanah         2021111262
2.        Rizqotul Maula                2021111265
3.        Kholis Arifah                   2021111293
Kelas: H
                                                                                                                    

TARBIYAH / PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013


 
BAB I
PENDAHULUAN

Pembelajaran yang monoton akan menjadikan peserta didik akan mudah terserang jenuh. Bila peserta didik sudah merasa jenuh maka mereka akan sulit menangkap informasi yang diberikan oleh pendidik. Alasan ini yang digunakan untuk menggunakan berbagai media pembelajaran yang pada zaman sekarang sudah berkembang cukup baik.
Melalui media pembelajaran, peserta didik disuguhi dengan sentuhan kreatif melalui media. Baik itu hanya berbentuk audio, visual, maupun audio visual. Melalui media inilah peserta didik bisa memaksimalkan menangkap informasi yang diberikan oleh pendidik. Berbagai macam mediapun kini sudah sering digunakan oleh sekolah-sekolah.


















BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Desain Instruksional
Desain instruksional tersusun dari dua kata yaitu desain dan instruksional. Desain adalah pola rencana pendahulan, sedangkan instruksional berarti pengajaran.
Desain instruksional adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan teknik mengajar dan materi pengajarannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut termasuk di dalamnya paket pelajaran kegiatan uji coba, revisi, dan kegiatan mengevaluasi hasil belajar.
Sedangkan menurut W.S Winkel desain instruksional dianggap sebagai pendekatan sistem (system approach), yaitu pola tertentu untuk mengembangkan suatu program aksi yang akan mencapai tujuan tertentu menurut langkah-langkah karja tertentu pula yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, kontrol pelaksanaan, dan evaluasi.
Instruction harus mempunyai perangkat komponen atau unsur-unsur yang saling berinteraksi satu sama lain menuju ke satu tujuan yang telah diterapkan. Unsur-unsur tersebut adalah tujuan mengajar yang diharapkan, materi atau bahan ajar yang akan diberikan, strategi atau metode mengajar yang akan ditetapkan, prosedur evaluasi yang dilakukan dalam menilai hasil siswa.[1]
B. Manfaat dan Tujuan Desain Instruksional
Menurut Morrison, Ross, dan Kemp, Tujuan dari desain pembelajaran yaitu membuat pembelajaran lebih efektif dan efisien dan mengurangi tingkat kesulitan pembelajaran. Tujuan yang lain adalah meningkatkan kemampuan pembelajar (instruktur, guru, widyaiswara, dosen, dan lain-lain), menghasilkan sumber belajar, mengembangkan sistem belajar mengajar.
Tujuannya bagi siswa adalah:
a). Membantu siswa untuk memikirkan dunia di masa yang akan datang dan segala kemungkinan yang akan mempengaruhi kehidupan manusia.
b). Agar siswa terinspirasi dan kreatif untuk membuat kerajinan.
c). Untuk meningkatkan apresiasi terhadap teknologi di dunia khususnya di Indonesia.
Sedangkan bagi guru atau pendidik adalah:
a). Agar calon guru atau pendidik siap menggunakan overhead projector sewaktu akan mengajar.[2]
b). Agar proses pembelajaran tidak monoton dan membosankan.
c). Agar guru atau pendidik kreatif dan dapat mengelola kelas dengan baik.
Sedangkan manfaat desain instruksional adalah agar belajar dapat bermakna dan efektif, agar tersedia atau termanfaatkan sumber belajar, agar dapat dikembangkan kesempatan atau pola belajar, agar belajar dapat dilakukan siapa saja secara berkelanjutan. Manfaat yang lainnya adalah:
1.      Membantu  para guru atau pendidik maupun penyusun desain instruksional untuk mengorganisir tugas-tugas pokok dalam hubungannya dengan sub tugas yang harus dipelajari siswa. Pengorganisasiannya adalah sedemikian, sehingga merupakan urutan logis sesuai dengan keadaan sebenarnya manakala tugas tersebut dilaksanakan. Proses ini akan memberikan gambaran yang jelas bagi siswa mengenai yang diharapkan dapat dikerjakan setelah selesai mengikuti suatu pelajaran.
2.      Membantu para guru di dalam menganalisis tingkah laku (behavior) berkenaan dengan masing-masing tugas pokok maupun sub tugas. Dengan cara demikian, semua pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk melaksanakan setiap tugas pokok dapat diidentifikasikan.
3.      Membantu para penyusun desain instruksional dan para guru atau pen­didik untuk memperkirakan waktu yang diperlukan untuk belajar, sehingga siswa dapat melaksanakan suatu tugas dengan baik.[3]
C. Model Desain Instruksional
1.    Model Pengembangan Instruksional Briggs
Model yang dikembangkan oleh Briggs ini berorientasi pada rancangan sistem dengan sasaran dosen atau guru yang akan bekerja sebagai perancang kegiatan instruksional maupun tim pengembang instruksional, yang susunan anggotanya meliputi antara lain dosen, administrator, ahli bidang studi, ahli evaluasi, ahli media, dan perancang instruksional.
Model pengembangan instruksional Briggs ini bersandarkan pada prinsip keselarasan antara:
a)    Tujuan yang akan dicapai (mau ke mana?)
b)   Strategi untuk mencapainya (dengan apa?)
c)    Evaluasi keberhasilannya (bila mana sampai tujuan?)
Dengan mengutip pendapat dari Briggs,  berdasarkan tiga prinsip dasar pengembangan yang dipakai, urutan langkah pengembangan instruksional menurut Briggs adalah sebagai berikut:
Mau kemana? Meliputi:
1)   Identifikasi masalah (penentuan tujuan)
Dalam langkah ini, Briggs menggunakan pendekatan bertahap:
(a). Mengidentifikasi tujuan kurikulum secara umum dan luas
(b). Menentukan prioritas tujuan
(c). Mengidentifikasi kebutuhan kurikulum baru
(d). Menentukan prioritas remedialnya
2)   Rumusan tujuan dalam perilaku belajar
Sesudah tujuan kurikuler yang bersirat umum ditentukan dan diorganisasi menurut tujuan yang lebih khusus, tujuan ini sebaiknya dirumuskan dalam tingkah laku belajar yang dapat diukur.
3)   Penyusunan materi atau silabus
4)   Analisis tujuan
Dalam hal ini , perlu diadakan analisis terhadap tiga hl, yaitu:
(a). Proses informasi, untuk menentukan tata urutan pemikiran yang logis.
(b). Klasifikasi belajar, untuk mengidentifikasi kondisi belajar yang diperlukan.
(c). Tugas belajar, untuk menentukan persayaratan belajar dan kegiatan belajar mengajar yang sesuai.
Dengan apa? Meliputi:
1). Penyiapan evaluasi hasil belajar
2). Menentukan jenjang belajar dan strategi instruksional.
3). Rancangan instruksional (guru).
Dalam pengembangan strategi instruksional oleh guru ini, guru perlu menjabarkan strategi dalam teknik mengajar dalam fungsinya sebagai penyeleksi materi pelajaran. Kegiatan ini meliputi:
(a). Memilih media
(b). Perencanaan kegiatan belajar
(c). Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
(d). Pelaksanaan evaluasi belajar.
Bilamana sampai tujuan? Meliputi:
1). Penyusunan tes
2). Evaluasi formatif
Dilakukan untuk memperoleh data dalam rangka revisi dan perbaikan materi bahan belajar dilaksanakan dalam tiga fase, yaitu:
(a). Uji coba
(b). Uji coba pada kelompok kecil
(c). Uji coba lapangan dalam sekolah besar.
3). Evaluasi sumatif
Dilakukan untuk menilai sistem penyampaian secara keseluruha n pada akhir kegiatan yang dinilai, dalam evaluasi sumatif ini mencakup hasil belajar, tujuan instruksional dan rosedur yang dipilih.
2.    Model Bela H. Banathy
Pengembangan instruksional model Banathy dapat diformulasikan dalam enam langkah, sebagai berikut:
a)    Merumuskan tujuan
Dalam langkah ini guru harus merumuskan kemamapuan yang harus dikuasai peserta didik setelah mengikuti program pengajaran tertentu.
b)   Mengembangkan tes
Dalam mengembangkan evalusai ini perlu didasarkan pada tujuan instruksional yang telah dirumuskan.
c)    Menganalisis kegiatan belajar
Dalam langkah ini perlu dirumuskan kegiatan belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan.
d)   Mendesain sistem instruksional
Dalam langkah ini ditetapkan jadwal dan tempat dari masing-masing komponen instruksional. Seluruh komponen instruksional yang telah dirumuskan perlu ditetapkan sebagai suatu sistem pengajaran.
e)    Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil
Dalam langkah ini sistem instruksional yang telah didesain perlu diuji cobakan dan dilaksanakan selain itu juga perlu mengadakan penilaian terhadap hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik.
f)    Mengadakan perbaikan
Hasil yang diperoleh dari evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik (feedback) dalam rangka mengadakan perbaikan terhadap sistem instruksional.
3.    Model Mengembangkan PPSI
Model ini adalah gabungan dari perencanaan pengajaran versi performance beside teacher education (PBET), perencanaan pengajaran sistematika, dan perencanaan pengajaran model davis. Dan di Indonesia, dikembangkan menjadi PPSI (Prosedur Pengembangan Instruksional). Istilah sistem instuksional dalam PPSI, mengandung pengertian bahwa PPSI menggunakan pendekatan sistem, maka PPSI juga dapat disebut menggunakan pendekatan yang berorientasikan pada tujuan.
Model pengembangan instruksional PPSI ini memiliki lima langkah pokok:
a). Perumusan tujuan.
b). Pengembangan alat evaluasi.
c). Kegiatan belajar.
d). Pengembangan program kegiatan.
e). Pelaksanaan.
4.    Model J. E. Kemp
Menurut Kemp, pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dari berbagai kendala yang timbul. Menurut Kemp, pengembangan instruksional terdiri dari delapan langkah:
a). Menentukan tujuan instruksional umum (TIU)
b). Menganalisis karakteristik siswa (peserta didik)
c). Menentukan tujuan instruksional khusus (TIK)
d). Menetukan materi pelajaran
e). Menetapkan penjejakan awal
f). Menetukan strategi belajar mengajar
g). Mengkoordinasi sarana penunjang, yang meliputi tenaga, fasilitas, alat, waktu, dan tenaga.
h). Mengadakan evaluasi.
5.    Model Gerlack dan Ely
Model pengembangan instruksional yang dikembangkan oleh Gerlack dan Ely ini dimaksudkan untuk pedoman perencanaan mengajar. Menurut Gerlack dan Ely langkah-langkah dalam pengembangan instruksional terdiri dari:
a.    Merumuskan tujuan instruksional
b.    Menentukan isi materi pelajaran yang telah disesuaikan dengan TIK
c.    Menentukan kemampuan awal peserta didik dengan melakukan pretes
d.   Menentukan teknik dan strategi
e.    Pengelompokkan belajar
f.     Menentukan media instruksional yang sesuai
g.    Menentukan ruang
h.    Memilih media instruksional yang sesuai
i.      Mengevaluasi hasil belajar
j.      Menganalisis umpan balik
6.    Model IDI (Instructional Development Institute)
Model desain instruksional terdapat tiga tahapan yaitu, pembatasan (define), pengembangan (develop), dan evaluasi (evaluated). Tiap tahapan tersebut terbagi lagi kedalam tiga fungsi atau langkah sehingga menjadi Sembilan fungsi.
Tahap I
Penentuan (define)
Fungsi 1
Identifikasi masalah
-       Analisis kebutuhan
-       Tentukan prioritas rumusan masalah

Fungsi 2
Analisis setting
-      Audience
-      Kondisi
-      Sumber

Fungsi 3
Pengelolaan
-       Tugas
-       Tanggung jawab
-       Jadwal

Tahap II
Pengembangan (develop)
Fungsi 4
Identifikasi objektif (TIK)
-       Tujuan akhir
-       Tujuan antara
Fungsi 5
Tentukan metode
-      Belajar
-      Mengajar
-      Media
-      Materi

Fungsi 6
Buat prototipe
-       Paket pelajaran
-       Instrument
-       Evaluasi

Tahap III
Penilaian (evaluasi)
Fungsi 7
Testing prototype
-       Uji coba
-       Kumpulan data
Fungsi 8
Analisis hasil
-      Tujuan
-      Metode
-      Teknik evaluasi
Fungsi 9
Implementasi
-       Review
-       Revisi.[4]


BAB III
PENUTUP

Lembaga Pendidikan yang berkualitas merupakan dambaan setiap komponen masyarakat, baik komponen masyarakat sekolah yang terdiri dari peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, maupun masyarakat dalam arti luas yaitu orang tua atau masyarakat lain pengguna pendidikan atau simpatisan yang menaruh perhatian besar terhadap kuantitas dan kualitas output sekolah, “Lembaga Pendidikan yang berkualitas” yang  mampu memproses peserta didik yang pada akhirnya akan menghasilkan produk (output) secara optimal.
Pendidikan merupakan masalah penting dalam kehidupan manusia, karena dengan adanya pendidikan berarti akan melahirkan manusia yang kreatif dan mempunyai ide-ide yang cemerlang dalam mengisi masa depan yang lebih maju. Potensi yang ada pada diri manusia akan berkembang menjadi pribadi yang baik, apabila dia manfaatkan dengan sebaik mungkin kearah yang positif.
Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas.








DAFTAR PUSTAKA

Mudhoffir. 1996. Teknologi Instruksional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Syukur, Fatah. 2005. Teknologi Pendidikan. Semarang: RaSAIL.
Http://aadesti.blogspot.com/2012/03/desain-instruksional.html, (diunduh pada hari jum’at, tanggal 4 oktober 2013, pukul 22:22).


 


[1]Fatah Syukur, Teknologi Pendidikan,  (Semarang: RaSAIL, 2005), hlm.33-34.
[2]Mudhoffir, Teknologi Instruksional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1996), hlm. 97-100.
[3]http://aadesti.blogspot.com/2012/03/desain-instruksional.html, (diunduh pada hari jum’at tanggal 4 oktober 2013, pukul 22:22).
[4]Fatah Syukur, Op. Cit., hlm. 35-42.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar