DESAIN-DESAIN INSTRUKSIONAL
MAKALAH
Disusun guna
memenuhi tugas
Mata Kuliah : Teknologi Pendidikan
Dosen Pengampu:
Rahmat Kamal, M.Pd.I

Oleh :
1.
Dzikrotul
Khasanah 2021111262
2.
Rizqotul Maula 2021111265
3.
Kholis
Arifah 2021111293
Kelas: H
TARBIYAH
/ PAI
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
PEKALONGAN
2013
BAB I
PENDAHULUAN
Pembelajaran yang
monoton akan menjadikan peserta didik akan mudah terserang jenuh. Bila peserta
didik sudah merasa jenuh maka mereka akan sulit menangkap informasi yang diberikan
oleh pendidik. Alasan ini yang digunakan untuk menggunakan berbagai media
pembelajaran yang pada zaman sekarang sudah berkembang cukup baik.
Melalui media
pembelajaran, peserta didik disuguhi dengan sentuhan kreatif melalui media.
Baik itu hanya berbentuk audio, visual, maupun audio visual. Melalui media
inilah peserta didik bisa memaksimalkan menangkap informasi yang diberikan oleh
pendidik. Berbagai macam mediapun kini sudah sering digunakan oleh
sekolah-sekolah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Desain Instruksional
Desain instruksional tersusun dari dua kata yaitu desain dan
instruksional. Desain adalah pola rencana pendahulan, sedangkan instruksional
berarti pengajaran.
Desain instruksional adalah keseluruhan proses analisis
kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan teknik mengajar dan materi
pengajarannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut termasuk di dalamnya paket
pelajaran kegiatan uji coba, revisi, dan kegiatan mengevaluasi hasil belajar.
Sedangkan menurut W.S Winkel desain instruksional dianggap
sebagai pendekatan sistem (system approach), yaitu pola tertentu untuk
mengembangkan suatu program aksi yang akan mencapai tujuan tertentu menurut
langkah-langkah karja tertentu pula yang mencakup perencanaan, pelaksanaan,
kontrol pelaksanaan, dan evaluasi.
Instruction harus mempunyai perangkat
komponen atau unsur-unsur yang saling berinteraksi satu sama lain menuju ke
satu tujuan yang telah diterapkan. Unsur-unsur tersebut adalah tujuan mengajar
yang diharapkan, materi atau bahan ajar yang akan diberikan, strategi atau
metode mengajar yang akan ditetapkan, prosedur evaluasi yang dilakukan dalam
menilai hasil siswa.[1]
B. Manfaat dan Tujuan Desain Instruksional
Menurut Morrison, Ross, dan Kemp,
Tujuan dari desain pembelajaran yaitu membuat pembelajaran lebih efektif dan
efisien dan mengurangi tingkat kesulitan pembelajaran. Tujuan yang lain adalah
meningkatkan kemampuan pembelajar (instruktur, guru, widyaiswara, dosen, dan
lain-lain), menghasilkan sumber belajar, mengembangkan sistem belajar mengajar.
Tujuannya bagi siswa
adalah:
a). Membantu siswa
untuk memikirkan dunia di masa yang akan datang dan segala kemungkinan yang
akan mempengaruhi kehidupan manusia.
b). Agar siswa
terinspirasi dan kreatif untuk membuat kerajinan.
c). Untuk
meningkatkan apresiasi terhadap teknologi di dunia khususnya di Indonesia.
Sedangkan bagi guru atau pendidik
adalah:
a). Agar calon guru atau pendidik siap menggunakan overhead projector sewaktu
akan mengajar.[2]
b). Agar proses pembelajaran tidak monoton dan membosankan.
c). Agar guru atau pendidik kreatif dan dapat mengelola kelas dengan baik.
Sedangkan manfaat desain
instruksional adalah agar belajar dapat bermakna dan efektif, agar tersedia
atau termanfaatkan sumber belajar, agar dapat dikembangkan kesempatan atau pola
belajar, agar belajar dapat dilakukan siapa saja secara berkelanjutan. Manfaat
yang lainnya adalah:
1. Membantu para guru atau pendidik maupun penyusun desain
instruksional untuk mengorganisir tugas-tugas pokok dalam hubungannya dengan
sub tugas yang harus dipelajari siswa. Pengorganisasiannya adalah sedemikian,
sehingga merupakan urutan logis sesuai dengan keadaan sebenarnya manakala tugas
tersebut dilaksanakan. Proses ini akan memberikan gambaran yang jelas bagi siswa mengenai yang
diharapkan dapat dikerjakan setelah selesai mengikuti suatu pelajaran.
2. Membantu para guru di
dalam menganalisis tingkah laku (behavior) berkenaan dengan masing-masing
tugas pokok maupun sub tugas. Dengan cara demikian, semua pengetahuan dan
ketrampilan yang diperlukan untuk melaksanakan setiap tugas pokok dapat
diidentifikasikan.
3. Membantu para penyusun
desain instruksional dan para guru atau pendidik untuk memperkirakan waktu
yang diperlukan untuk belajar, sehingga siswa dapat melaksanakan suatu tugas
dengan baik.[3]
C. Model Desain Instruksional
1.
Model Pengembangan Instruksional Briggs
Model yang dikembangkan oleh Briggs ini berorientasi pada rancangan sistem
dengan sasaran dosen atau guru yang akan bekerja sebagai perancang kegiatan
instruksional maupun tim pengembang instruksional, yang susunan anggotanya
meliputi antara lain dosen, administrator, ahli bidang studi, ahli evaluasi,
ahli media, dan perancang instruksional.
Model pengembangan instruksional Briggs ini bersandarkan pada prinsip
keselarasan antara:
a)
Tujuan yang akan dicapai (mau ke mana?)
b)
Strategi untuk mencapainya (dengan apa?)
c)
Evaluasi keberhasilannya (bila mana sampai tujuan?)
Dengan mengutip pendapat dari Briggs, berdasarkan tiga prinsip dasar pengembangan
yang dipakai, urutan langkah pengembangan instruksional menurut Briggs adalah
sebagai berikut:
Mau kemana? Meliputi:
1)
Identifikasi masalah (penentuan tujuan)
Dalam langkah ini, Briggs menggunakan pendekatan bertahap:
(a). Mengidentifikasi tujuan kurikulum secara umum dan luas
(b). Menentukan prioritas tujuan
(c). Mengidentifikasi kebutuhan kurikulum baru
(d). Menentukan prioritas remedialnya
2)
Rumusan tujuan dalam perilaku belajar
Sesudah tujuan kurikuler yang bersirat umum ditentukan dan diorganisasi
menurut tujuan yang lebih khusus, tujuan ini sebaiknya dirumuskan dalam tingkah
laku belajar yang dapat diukur.
3)
Penyusunan materi atau silabus
4)
Analisis tujuan
Dalam hal ini , perlu diadakan analisis terhadap tiga hl, yaitu:
(a). Proses informasi, untuk
menentukan tata urutan pemikiran yang logis.
(b). Klasifikasi belajar, untuk
mengidentifikasi kondisi belajar yang diperlukan.
(c). Tugas belajar, untuk
menentukan persayaratan belajar dan kegiatan belajar mengajar yang sesuai.
Dengan apa? Meliputi:
1). Penyiapan evaluasi hasil belajar
2). Menentukan jenjang belajar dan strategi instruksional.
3). Rancangan instruksional (guru).
Dalam pengembangan strategi instruksional oleh guru ini, guru perlu
menjabarkan strategi dalam teknik mengajar dalam fungsinya sebagai penyeleksi
materi pelajaran. Kegiatan ini meliputi:
(a). Memilih media
(b). Perencanaan kegiatan belajar
(c). Pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar
(d). Pelaksanaan evaluasi
belajar.
Bilamana sampai tujuan? Meliputi:
1). Penyusunan tes
2). Evaluasi formatif
Dilakukan untuk memperoleh data dalam rangka revisi dan perbaikan materi
bahan belajar dilaksanakan dalam tiga fase, yaitu:
(a). Uji coba
(b). Uji coba pada kelompok kecil
(c). Uji coba lapangan dalam
sekolah besar.
3). Evaluasi sumatif
Dilakukan untuk menilai sistem penyampaian secara keseluruha n pada akhir
kegiatan yang dinilai, dalam evaluasi sumatif ini mencakup hasil belajar,
tujuan instruksional dan rosedur yang dipilih.
2.
Model Bela H. Banathy
Pengembangan instruksional model Banathy dapat diformulasikan dalam enam
langkah, sebagai berikut:
a)
Merumuskan tujuan
Dalam langkah ini guru harus merumuskan kemamapuan yang harus dikuasai
peserta didik setelah mengikuti program pengajaran tertentu.
b)
Mengembangkan tes
Dalam mengembangkan evalusai ini perlu didasarkan pada tujuan instruksional
yang telah dirumuskan.
c)
Menganalisis kegiatan belajar
Dalam langkah ini perlu dirumuskan kegiatan belajar yang harus dilakukan
peserta didik dalam rangka mencapai tujuan.
d)
Mendesain sistem instruksional
Dalam langkah ini ditetapkan jadwal dan tempat dari masing-masing komponen
instruksional. Seluruh komponen instruksional yang telah dirumuskan perlu
ditetapkan sebagai suatu sistem pengajaran.
e)
Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil
Dalam langkah ini sistem instruksional yang telah didesain perlu diuji
cobakan dan dilaksanakan selain itu juga perlu mengadakan penilaian terhadap
hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik.
f)
Mengadakan perbaikan
Hasil yang diperoleh dari evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik (feedback)
dalam rangka mengadakan perbaikan terhadap sistem instruksional.
3.
Model Mengembangkan PPSI
Model ini adalah gabungan dari perencanaan pengajaran versi performance
beside teacher education (PBET), perencanaan pengajaran sistematika, dan
perencanaan pengajaran model davis. Dan di Indonesia, dikembangkan menjadi PPSI
(Prosedur Pengembangan Instruksional). Istilah sistem instuksional dalam PPSI,
mengandung pengertian bahwa PPSI menggunakan pendekatan sistem, maka PPSI juga
dapat disebut menggunakan pendekatan yang berorientasikan pada tujuan.
Model pengembangan instruksional PPSI ini memiliki lima langkah pokok:
a). Perumusan tujuan.
b). Pengembangan alat evaluasi.
c). Kegiatan belajar.
d). Pengembangan program kegiatan.
e). Pelaksanaan.
4.
Model J. E. Kemp
Menurut Kemp, pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas
komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dari
berbagai kendala yang timbul. Menurut Kemp, pengembangan instruksional terdiri
dari delapan langkah:
a). Menentukan tujuan
instruksional umum (TIU)
b). Menganalisis karakteristik
siswa (peserta didik)
c). Menentukan tujuan
instruksional khusus (TIK)
d). Menetukan materi pelajaran
e). Menetapkan penjejakan awal
f). Menetukan strategi belajar
mengajar
g). Mengkoordinasi sarana
penunjang, yang meliputi tenaga, fasilitas, alat, waktu, dan tenaga.
h). Mengadakan evaluasi.
5.
Model Gerlack dan Ely
Model pengembangan instruksional yang dikembangkan oleh Gerlack dan Ely ini
dimaksudkan untuk pedoman perencanaan mengajar. Menurut
Gerlack dan Ely langkah-langkah dalam pengembangan instruksional terdiri dari:
a.
Merumuskan
tujuan instruksional
b.
Menentukan
isi materi pelajaran yang telah disesuaikan dengan TIK
c.
Menentukan
kemampuan awal peserta didik dengan melakukan pretes
d.
Menentukan
teknik dan strategi
e.
Pengelompokkan
belajar
f.
Menentukan
media instruksional yang sesuai
g.
Menentukan
ruang
h.
Memilih
media instruksional yang sesuai
i.
Mengevaluasi
hasil belajar
j.
Menganalisis
umpan balik
6.
Model IDI (Instructional Development Institute)
Model
desain instruksional terdapat tiga tahapan yaitu, pembatasan (define),
pengembangan (develop), dan evaluasi (evaluated). Tiap tahapan tersebut terbagi
lagi kedalam tiga fungsi atau langkah sehingga menjadi Sembilan fungsi.
Tahap I
Penentuan (define)
|
Fungsi 1
Identifikasi masalah
- Analisis kebutuhan
- Tentukan prioritas rumusan masalah
|
Fungsi 2
Analisis setting
- Audience
- Kondisi
- Sumber
|
Fungsi 3
Pengelolaan
- Tugas
- Tanggung jawab
- Jadwal
|
Tahap II
Pengembangan (develop)
|
Fungsi 4
Identifikasi objektif (TIK)
- Tujuan akhir
- Tujuan antara
|
Fungsi 5
Tentukan metode
- Belajar
- Mengajar
- Media
- Materi
|
Fungsi 6
Buat prototipe
- Paket pelajaran
- Instrument
- Evaluasi
|
Tahap III
Penilaian (evaluasi)
|
Fungsi 7
Testing prototype
- Uji coba
- Kumpulan data
|
Fungsi 8
Analisis hasil
- Tujuan
- Metode
- Teknik evaluasi
|
Fungsi 9
Implementasi
- Review
|
BAB III
PENUTUP
Lembaga Pendidikan yang
berkualitas merupakan dambaan setiap komponen masyarakat, baik komponen masyarakat
sekolah yang terdiri dari peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan,
maupun masyarakat dalam arti luas yaitu orang tua atau masyarakat lain pengguna
pendidikan atau simpatisan yang menaruh perhatian besar terhadap kuantitas dan
kualitas output sekolah, “Lembaga Pendidikan yang berkualitas” yang mampu
memproses peserta didik yang pada akhirnya akan menghasilkan produk (output)
secara optimal.
Pendidikan merupakan
masalah penting dalam kehidupan manusia, karena dengan adanya pendidikan berarti
akan melahirkan manusia yang kreatif dan mempunyai ide-ide yang cemerlang dalam
mengisi masa depan yang lebih maju. Potensi
yang ada pada diri manusia akan berkembang menjadi pribadi yang baik, apabila
dia manfaatkan dengan sebaik mungkin kearah yang positif.
Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut
pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai
proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan
teori tentang strategi serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai
ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi
pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan
fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai
mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas.
DAFTAR PUSTAKA
Mudhoffir.
1996. Teknologi Instruksional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Syukur, Fatah. 2005. Teknologi Pendidikan. Semarang: RaSAIL.
Http://aadesti.blogspot.com/2012/03/desain-instruksional.html, (diunduh pada hari jum’at, tanggal 4 oktober 2013, pukul 22:22).
[2]Mudhoffir, Teknologi
Instruksional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1996), hlm. 97-100.
[3]http://aadesti.blogspot.com/2012/03/desain-instruksional.html, (diunduh pada
hari jum’at tanggal 4 oktober 2013, pukul 22:22).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar